Selamat datang di Blog saya

Kami mencoba untuk menulis hal-hal yang berkaitan dengan Pendidikan, Tauhid, TI. dan Bisnis. Belajar adalah menimba ilmu sepanjang hayat. Imu yang bermanfaar adalah ilmu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ilmu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah salah satunya adalah Ilmu Tauhid. Dengan menggunakan Tauhidul zat, tauhidul sifat, tauhidul asma, tauhidul af'al akan membawa kita kepada ajaran yang benar

http://www.clickingbank.org/index.php?ref=sandika

http://www.waoIndia.com/register.php?r=sandika

Thebluesptc , PTC iklan banyak per klik $ 0.02

http://www.thebluesptc.info/index.php?view=entry2&ref=sandika

Ciao.com

AWSurveys

Tickerbar.info

Sabtu, Juli 05, 2008

Surat Al Fatikhah merupakan dialog antara hamba dengan sang Kholik

Manusia memiliki dua kekuatan: kekuatan ilmu dan kekuatan amal. Pada keduannya tertumpu kebahagiaan yang sempurna.
Kesempurnaan kekuatan ilmu hanya terwujud dengan mengenal Zat (Tuhannya), mengenal asma dan sifat-sifat-Nya, mengenal jalan yang dapat mengantarkan mendekatkan diri kepada-Nya, juga terwujud dengan mengenal bencana-bencana (khoerihi wasyarihi ), yang menimpanya, mengenal dirinya, dan cacat-catanya. Dengan lima jenis pengenalan ( makrifat ) ini, kekuatan ilmu menjadi sempurna. Orang yang paling banyak ilmu adalah orang yang paling mengerti dan paling banyak mengenal hal-hal di atas.
Sedangkan kesempurnaan kekuatan amal, tidak tercapai kecuali dengan memelihara hak-hak Allah atas sang hamba dan menunaikannya dengan penuh ikhlasm jujur dan disiplin, sambil selalu memandang nikmat-nikmat Allah yang diterimanya dan memandang dirinya sering melalaikan hak Allah sehingga ia malu kepada-Nya. Juga ia memandang bahwa tidak ada jalan baginya untuk mencapai kesempurnaan dua kekuatan tersebut kecuali dengan ma'unah dan pertolongan Allah.
Dengan demikian, maka kesempurnaan manusia dan kebahagiaannya hanya tercapai dengan kumpulnya perkara-perkara ini sebagaimana dialog sang hamba dengan sang Kholik di dalam QS. Al -Fatikhah sbb :
1. Dialog sang Kholik :Ayat "Segala puji bagi Allah, Robb semesta alam. Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang menguasai hari pembalasan" ( ayat 2 - 4 ) mencakup pondasi pertama, yang terdiri atas ma'rifat Robb 'mengenal Robb' , yaitu Allah Ta'ala, mengenal asama, sifat dan perbuatan ( af'al ). Nama-nama yang dimuat dalam tiga rangkaian ini merupakan ushul ' dasar' bagi Asmaul -Husna. Nama Allah mencakup sifat-sifat uluhiyah, nama Robb mencakup sifat-sifat rububiyah, dan nama ar rohman mencakup sifat-sifat ihsan, kemurahan dan kasih sayang. Pada-Nya lah makna dari nama-nama-Nya berkisar.
2. Dialog hamba, ayat "Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan" (ayat 5) mencakup ma'rifat mengenal jalan untuk mencapai hal di atas yang tidak lain adalah beribadah hanya kepada-Nya saja dengan segala apa yang dicintai dan diridoi-Nya disertai memohon pertolongan kepada-Nya dalam melakukannya.
3. Dialog hamba, ayat " Tunjukilah Kami shirotol mustakim ( jalan yang lurus ) (ayat 6 ) mencakup penjelasan bahwa tidak ada jalan bagi seorang hamba untuk mencapai kebahagiaan selain beristiqomah ( teguh tidak bergeser ) dan tetap pada shirotol mustakim dan tidak ada lagi seorang hamba untuk beristiqomah kecuali dengan hidayah Roob-Nya, juga tidak ada jalan baginya untuk beribadah kepada Allah kecuali dengan ma'unah dan pertolongan-Nya. Jadi sifat hamba "La haula wala quwata ila bilah ", tidak berdaya upaya apa-apa kecuali dari Allah.
4. Dialog hamba, ayat " Bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan jalan orang-orang yang sesat" (ayat 7 ) mencakup penjelasa tentang dua tepi penyimpangan dari shirotol mustakim dan penyimpangan dari salah satunya merupakan kesesatan, akibat kerusakan ilmu dan keyakinan, sedangkan penyimpangan kedua merupakan kebencian Allah yang penyebabnya adalah kerusakan tujuan dan amal.
Dari keterangan di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa surat Al Fatikhah, selain merupakan dialog antara hamba dengan Kholik-Nya, juga pada surat tersebut awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah hidayah dan ujungnya adalah nikmat.
Barang siapa yang merealisasikan kandungan Al Fatikhah dengan ilmu, makrifat, amal, dan perilaku, ia pasti akan meraih keberuntungan yang paling besar dan' ubudiyah'nya menjadi ubudiyah orang-orang khusus yang derajatnya lebih tinggi dari orang-orang biasa.

Jumat, Juli 04, 2008

Jalan Mencapai Ma'rifatullah

Dalam Al-Qur'an, Allah azza wajalla menyeru hambanya untuk mengenalnya melalui dua jalan, yaitu :
1. Melihat tanda-tanda kekuasaan-Nya seperti dalam firman Allah ( QS. Al Baqoroh:164 )
" Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yag berlayar d laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, ...... "
" Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal" ( Ali Imron:190)
2. Merenungi dan mentadaburi ayat-ayat Al Qur'an, seperti firman-Nya :
"Maka, apakah nereka tidak memperhatikan perkataan ( kami ) ...... " ( Al-Mu'minun:68)
" Maka, apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an ? Kalau sekiranya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya ( An-Nisa:82 )
" Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan keberkatan supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya.... " ( Shad:29 )
Tanda-tanda kekuasaan yang terdiri atas makhluk menunjukkan kepada perbuatan ( af'al ), sedangkan perbuatan menunjukkan kepada sifat empunya perbuatan tersebut.Dengan demikian, maka tanda-tenda tersebut merupakan bukti adanya si pelaku perbuatan itu. Itu berarti dia wajib ada, wajib berkuasa, dan memiliki ilmu karena tidak ada suatu perbuatan yang terbit dari sesuatu yang tidak ada atau sesuatu yang tidak mempunyai kekuasaan, sebagaimana ilmu mustahil muncul dari zat yang tidak hidup dan tidak memiliki irodah
Berbagai kemaslahatan, hikmah dan tujuan-tujuan yang terpuji yang ada di balik ciptaan Allah azza wa jalla merupakan bukti atas kebijaksanaan Allah, sedangkan berbagai manfaat dan kebaikan yang ada di dalamnya merupakan bukti atas rahmat dan kasih sayang-Nya. Adapun kekerasan, siksa dan bencana adalah bukti atas murka_Nya.Begitu juga perhatian dan kemuliaan yang diperoleh seseorang atau suatu umat dan didekatkannya dia kepada-Nya seperti kita jumpai dalam kehidupan ini, merupakan bukti atas mahabah dan cinta-Nya, sebagaimana kehinaan dan dijauhkannya seseorang atau suatu umat dari Dia, merupakan bukti atas amarah-Nya. Dan apa yang kita saksikan pada ciptaan Allah berupa kekurangan dan kelemahan sesuatu pada awal keberadaannya, kemudian dia berproses, sedikit demi sedikit bertambah hingga sempurna, merupakan bukti atas kepastian adanya hari kebangkitan.Terlihatnya atas bekas-bekas rahmat dan nikmat pada makhluk-Nya adalah bukti atas benarnya nubuwwah.
Kesempurnaan yang beragama yang kita temui pada tanda-tanda kekuasaan-NYa yang jika kesempurnaan itu lenyap, maka akan muncul kekurangan, jika merupakan dalil atau bukti bahwa zat Pemberi Kesempurnaan tersebut lebih berhak untuk memiliki kesempurnaan itu.
Jadi, tanda-tanda kekuasaan Allah merupakan bukti paling jelas atas sifat-sifat-Nya dan atas kebenaran berita yang dibawa oleh para rosul tentang-Nya.Dengan kata lain, alam semesta sebagai ciptaan-Nya ini membenarkan ayat-ayat Al-Qur'an yang sebagian isinya menyuruh kita untuk berdialog dengan ayat-ayat kauniyah ( tanda-tanda kekuasaan Allah pada alam ).

Keruntuhan Ateisme

Jangan pernah lupa

Cahaya Al-Qur'an

Ajaran Setan menyesatkan

Perjalanan ke Akherat

Islam mengutuk terorisme